Kendari – Harga Beras dan Telur Naik di Pasar Mandonga hingga PKL Lawata Kendari Jelang Natal Tahun Baru 2025.Harga beras dan telur mulai mengalami kenaikan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 di sejumlah pasar tradisional di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Dua komoditas ini menjadi bahan pokok yang paling awal mengalami kenaikan harga pada akhir tahun. Berdasarkan pantauan Tribunnewssultra.com, Sabtu (6/12/2025), lonjakan harga itu terjadi di Pasar Basah Mandonga, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, serta di Pasar PKL Lawata di Jalan Lawata. Seorang pedagang di Pasar Mandonga, Vina (30), mengatakan harga beras kemasan 5 kilogram yang medium naik dari Rp75 ribu menjadi Rp85 ribu.
Harga beras ketan juga ikut naik dari Rp12 ribu menjadi Rp14 ribu per liter. Menurut dia, kenaikan harga bahan pokok sudah menjadi pola tahunan setiap menjelang Natal dan Tahun Baru. “Kenaikan ini akan terus terjadi karena kebutuhan masyarakat biasanya meningkat di akhir tahun,” ujar Vina. Hal senada disampaikan pedagang di PKL Lawata, Sabarudin.
Di PKL Lawata harga beras pun naik. Namun lebih murah dibanding beras yang ada di Pasar Basah Mandonga. Ia menyebut harga beras eceran kini Rp13 ribu per liter dari sebelumnya Rp12 ribu. Sementara itu, untuk telur ukuran kecil kini dijual Rp55 ribu, naik sekitar Rp3 ribu dari harga sebelumnya Rp52 ribu per rak. Kenaikan telur ini dipengaruhi penyesuaian harga di tingkat distributor, tetapi penyebabnya belum diketahui secara pasti. Selain kenaikan harga, Sabarudin juga mengeluhkan menurunnya jumlah pengunjung pasar dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga : Kebakaran Rumah Kosong Belakang SPBU Kota Lama Kendari, Petugas dan Warga Bobol Gembok Padamkan Api
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Potret-Pasar-Basah-Mandonga-Kendari-Sabtu-6122025.jpg)
Ia menyebut kondisi pasar sedang sepi sehingga turut berdampak pada pendapatan pedagang. “Semoga saat masa libur Natal dan Tahun Baru nanti, jumlah pengunjung kembali meningkat seperti tahun-tahun sebelumnya. Senada, bawang putih mulai bergerak ke kisaran Rp40.000 per kilogram dan bawang merah mencapai Rp49.000 per kilogram. Sementara itu, harga ayam masih stagnan di kisaran Rp40.000 per kilogram, sedangkan telur berada pada rentang Rp30.500–Rp31.000 per kilogram. Untuk gula pasir juga berada di kisaran Rp18.000 per kilogram.
Namun, Reynaldi menyebut minyak goreng Minyakita masih menjadi sorotan lantaran harganya masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET). Adapun minyak goreng curah ikut bergerak naik ke level Rp19.000 per liter. “Minyakita ini yang menurut kami menjadi sorotan karena harganya masih di atas HET yang seharusnya Rp15.700 per liter sekarang di Rp17.850 per liter,” ujarnya. Menurutnya, belum turunnya harga minyak goreng Minyakita mengindikasikan adanya persoalan pada rantai tata niaga, baik dari sisi pasokan maupun regulasi yang berlaku. Ikappi pun mempertanyakan mengapa harga Minyakita masih di atas HET, padahal pemerintah telah merevisi aturan terkait.
Menurutnya, ketersediaan minyak goreng nasional yang melimpah seharusnya menjadikan harga lebih stabil. Di sisi lain, Reynaldi menuturkan gangguan logistik di Sumatra menjadi tantangan tambahan dalam distribusi komoditas pangan. Adapun, Ikappi tengah memetakan sejumlah kabupaten/kota yang terdampak kerusakan infrastruktur seperti putusnya jembatan, sehingga jalur darat tidak dapat dilalui. Dia menuturkan, kondisi ini menghambat pasokan ke wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, kecuali untuk makanan jadi yang bisa dikirim melalui jalur udara. Imbasnya, distribusi kebutuhan pokok, terutama komoditas pangan segar, masih sulit menjangkau sejumlah pasar di daerah tersebut.





