EKS Kabareskrim Ito Sumardi Pandangan Ito Sumardi soal Sosok Arya Daru & HP Hilang Latar Belakang: Ikatan Profesional dari Myanmar
Ruang Kendari EKS Kabareskrim Ito Sumardi pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Myanmar (2014–2019) selepas pensiun dari Polri. Selama itu pula, ia mengenal Arya Daru Pangayunan secara personal sebagai staf lokal di Kedutaan besar RI di Yangon, yang dianggapnya memiliki reputasi tak bercela: religius, sopan, dan pendiam. Menurut Ito, dalam kesan koleganya di sana, Arya tidak pernah menimbulkan masalah
Kejanggalan Hilangnya Ponsel & Digital Forensik
Dalam wawancara dan diskusi bersama berbagai media serta Deddy Corbuzier, Ito mengungkapkan bahwa analisis digital—terutama jejak ponsel Arya—merupakan elemen krusial yang belum diungkap sepenuhnya. Ia memertanyakan kapan terakhir ponsel korban aktif, siapa yang melakukan komunikasi terakhir, dan mengapa perangkat itu bisa hilang dari data forensic awal Ito menekankan pentingnya pelacakan data digital seperti panggilan dan lokasi agar kronologi kejadian bisa lebih jelas
Analisis TKP & Autopsi: Tidak Bisa Prematur
Ito sangat menyoroti kelemahan prosedur olah TKP dan visum luar yang dilakukan tanpa otopsi lengkap. Pendekatan prematur seperti itu tak cukup untuk menyimpulkan motif atau penyebab kematian

Baca Juga: Meskipun Berutang pada Rekanan, DJPK Sebut Pemko Tanjungbalai Surplus Rp 75,31 Miliar di APBD
EKS Kabareskrim Ito Sumardi Sosok Arya vs Motif atau Ancaman
Ito mengungkapkan bahwa Arya selama ini dikenal aktif menangani kasus TPPO di Myanmar, sehingga ia memiliki potensi dikorbankan oleh jaringan kriminal transnasional. Itu membuat kematiannya patut dicurigai sebagai dampak dari pekerjaan diplomatik penuh risiko tersebut Ito skeptis terhadap asumsi bunuh diri, menyebut kematian Arya lebih pantas dikaji melalui lensa pembunuhan terencana—terutama dengan hilangnya ponsel, potongan lakban misterius, dan bukti digital yang belum transparan
Sosok Arya di Mata Kolega
Menurut rekan-rekan di Kementerian Luar Negeri dan KBRI, Arya adalah diplomat muda yang berdedikasi tinggi.
EKS Kabareskrim Ito Sumardi: HP Hilang sebagai Titik Tombo
Satu aspek yang sangat menarik perhatian Ito adalah hilangnya ponsel Arya dari rekonsiliasi forensik awal. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah ada yang sengaja menyembunyikan bukti? Dan kapan tepatnya ponsel itu menghilang dari daftar inventaris digital pihak penyidik? Ito berharap penyidik Polda Metro merambah digital forensik, termasuk akses akun, metadata, dan timeline panggilan terakhir
Intisari Singkat
| Aspek | Temuan & Kekhawatiran |
|---|---|
| Hubungan Sosial | Ito pernah mengenal Arya secara dekat di Myanmar, menyebutnya sebagai figur tanpa riak |
| Ponsel Hilang | Hilangnya HP menimbulkan keraguan: apakah sengaja ditutupi atau kehilangan bukti? |
| Prosedur TKP & Visum | Visum luar dirasa prematur tanpa otopsi, menimbulkan dugaan SOP terabaikan |
| Motif Pekerjaan | Kasus TPPO di Myanmar bisa membawa risiko bagi diplomat penangan kasus seperti Arya |
| Rekam Jejak Arya | Dikenal berdedikasi, membantu WNI di luar negeri, tanpa rekam jejak negatif |
Kesimpulan & Ajakan Aksi
Ito secara tegas menyerukan penyelidikan lanjutan: termasuk analisis digital forensik, penelusuran alibi penjaga kos, serta keterbukaan pihak penyidik terhadap masukan ahli. Tanpa langkah ini, misteri Arya Daru bisa tetap membayang tanpa penjelasan memuaskan.
Namun, lebih dari sekadar mengenal sosok pribadi Arya, Ito menyoroti sejumlah kejanggalan dalam kasus kematiannya yang masih dalam penyelidikan polisi. Salah satu hal yang menurutnya sangat janggal adalah hilangnya ponsel milik Arya.
Ini harusnya jadi kunci penyelidikan
Menurutnya, dalam kasus kematian yang mencurigakan, keberadaan barang-barang pribadi korban—terutama ponsel—sangat vital untuk mengungkap motif, pelaku, maupun kronologi kejadian.



